>
Tampilkan postingan dengan label perkembangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perkembangan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 November 2013

Apple vs Samsung Diwarnai Campur Tangan Pemerintah AS




Sengketa paten antara Apple dengan Samsung ternyata mendapat perhatian dari pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Barack Obama. Pemerintahan Obama membatalkan putusan Komisi Perdagangan Internasional AS yang melarang penjualan atau impor ponsel dan tablet Apple model lama yang dinilai melanggar paten Samsung.

Pada Juni lalu, Komisi Perdagangan Internasional AS (International Trade Commision/ITC) memenangkan Samsung dan melarang impor atau penjualan iPhone 4, iPhone 3GS, iPad generasi pertama versi 3G, dan iPad generasi kedua versi 3G, yang didistribusikan oleh operator seluler AT&T di AS.

Michael Froman, Wakil Perdagangan Amerika Serikat, menggunakan hak veto untuk membatalkan larangan penjualan iPhone dan iPad tersebut, Sabtu 3/8/2013. Froman, yang jadi juru bicara Obama untuk urusan perdagangan dan investasi internasional, mengatakan, hal ini akan "berdampak pada persaingan dalam perekonomian AS dan berpengaruh pada konsumen di AS."

"Keputusan saya menolak putusan ini bukan berarti pemilik paten tidak memiliki pemulihan hak. Sebaliknya, pemilik paten dapat terus mengejar haknya melalui pengadilan," tulis Froman dalam surat resminya.

Langkah ini menandai pertama kalinya sejak 1987, presiden menggunakan hak veto untuk membatalkan putusan Komisi Perdagangan Internasional AS.

Pihak Samsung menyatakan kekecewaannya atas pencabutan larangan tersebut. Perusahaan Korea Selatan ini mengaku, sebelumnya telah melakukan negosiasi dengan Apple sebagai itikad baik. Namun, Apple tetap tidak mau membayar lisensi paten.

Apple menyambut baik veto yang diambil Pemerintah Obama. "Kami memuji pemerintah untuk mendorong inovasi dalam kasus penting ini. Samsung telah menyalahgunakan sistem paten dengan cara ini."

Sebelumnya, Komisi Perdagangan International menargetkan larangan penjualan iPhone dan iPad model lama selama setahun. Produk-produk Apple itu dianggap melanggar paten teknologi nirkabel 3G milik Samsung.

Sementara produk iPhone dan iPad model lainnya, dinilai tidak melanggar paten karena memakai cip seluler yang berbeda.

Dalam suratnya, Froman berpendapat, paten teknologi 3G milik Samsung ini termasuk dalam Standards-Essential Patents (SEP) yang dianggap melibatkan kepentingan umum. Dalam aturan di AS, perusahaan pemilik SEP harus melisensikan paten tersebut kepada kompetitor dengan biaya yang adil, wajar, dan tidak diskriminatif, untuk memfasilitasi kemajuan teknologi dan membangun persaingan usaha yang sehat.

Amerika Serikat sebagai pusat sengketa paten teknologi

Selain jadi pasar penting untuk bisnis teknologi, Amerika Serikat menjadi pusat sengketa hukum paten. Banyak perusahaan teknologi yang memperjuangkan hak intelektualnya di Negeri Paman Sam itu.

Namun, sengketa paten yang dilakoni perusahaan-perusahaan teknologi seakan tak ada habisnya. Pemerintah Obama mengeluarkan perintah khusus agar pengadilan AS menindak cepat sengketa paten yang berlarut-larut dan meminimalkan gugatan yang dianggap tak layak untuk disidangkan. Pengadilan juga diperintahkan memberi hukuman berupa denda uang, bukan larangan impor atau penjualan.

Perusahaan teknologi tak habis akal, mereka menjadikan Komisi Perdagangan Internasional AS sebagai tempat "populer" untuk mengajukan gugatan hukum. Karena, hakim di komisi ini mampu bertindak cepat dan mau mengeluarkan putusan larangan impor atau penjualan.

Seperti dikutip dari Reuters, kasus yang ditangani Komisi Perdagangan Internasional AS, dapat dibanding ke Pengadilan Banding Sirkuit Federal, lalu bisa dilanjutkan lagi ke Mahkamah Agung.

"Bendera perang" antara Apple dan Samsung dimulai sejak 2010. Kala itu, Apple mengajukan gugatan pertamanya, yang menuding produk ponsel dan tablet seri Galaxy mencontek desain dan perangkat lunak iPhone dan iPad. Selain di AS, sengketa paten keduanya juga berlangsung di Inggris, Belanda, Jerman, Korea Selatan, Jepang, dan Australia.

Microsoft Beli Nokia


Nokia jual divisi telefon genggam seharga 7,2 miliar Dolar atau sekitar Rp 80 triliun. Pembelinya tak lain, Microsoft. 


Sebuah era menjelang akhir. Nokia yang awalnya dikenal sebagai produsen telepon genggam, kini menjual divisi itu. Direktur Eksekutif Nokia Stephen Elop ingin agar proses transaksi dan peralihan berlangsung secepatnya.
Pembelinya tak lain dari perusahaan Microsoft, yang berharap investasinya sebesar 7,2 miliar Dolar atau sekitar Rp 80 triliun akan mempercepat pertumbuhan kedua perusahaan.


Stephen Elop dan Steve Ballmer


Direktur Eksekutif Microsoft Steve Ballmer mengatakan bahwa langkah besar ini akan membangun kondisi yang menguntungkan untuk karyawan, pemegang saham dan konsumen dua perusahaan. Begitu ungkapnya kepada kantor berita Reuters (03/09/13).

Disambut pemegang saham
Microsoft dan Nokia sudah bekerja sama sejak 2011, ketika Nokia mulai menggunakan Windows sebagai basis telepon genggam model Lumia.

Proses pembelian Microsoft ini diharapkan akan selesai di awal 2014. Bila jadwal itu terpenuhi, maka sekitar 32,000 karyawan Nokia akan turut pindah ke Microsoft, yang saat ini memiliki 99,000 karyawan.

Pemegang saham Nokia menyambut perkembangan ini, harga saham perusahaan Finlandia itu naik 40%.

Nokia N8
Perusahaan Microsoft yang sebelumnya mendominasi dunia peringkat lunak komputer, sejak 2011 mulai menjajagi pasar telefon genggam. Namun produk-produknya gagal bersaing dengan iPhone dan telefon-telefon genggam lain yang berbasis Android.

Merebut Pasar

Dengan membeli Nokia, Microsoft berharap bisa lebih mudah merebut pasar. Sebuah penelitian menunjukkan penjualan telefon berbasis Windows tak sampai seperlima penjualan iPhone dan kurang dari 3 persen penjualan telepon berbasis Android.

Meski begitu Direktur Eksekutif Microsoft Steven Ballmer optimis dengan pembelian Nokia. Finlandia akan menjadi pusat pengembangan perangkat Nokia.

Ballmer mengatakan Microsoft akan menginvetasi lebih dari $250 juta untuk sebuah pusat data baru yang akan melayani pelanggan Eropa. Ballmer yang berusia 57 tahun, pekan lalu mengumumkan akan mengundurkan diri tahun depan.

Diperkirakan Elop, yang sebelumnya juga seorang eksekutif Microsoft mempunyai peluang besar untuk menggantikannya. Namun saingannya tidak sedikit, mantan Direktur Skype, Tony Bates juga disebut-sebut sebagai pengganti Ballmer nanti itu.

Senin, 04 November 2013

Menjual asetnya, apakah blackberry bangkrut

BlackBerry Ltd. sebuah perusahaan smartphone ternama yang sepertinya sedang mengalami kemunduran dalam kiprahnya di dunia bisnis masih terus dihantam berita mengenai kebangkrutannya. Di tiap harinya ada saja berita terbaru mengenai kebangkrutan perusahaan ini dan berita-berita yang seperti itu tidak sebanding dengan keluarnya produk-produk BlackBerry yang baru. Setelah harga sahamnya turun sebanyak 24%, apakah perusahaan BlackBerry bangkrut?
Jika Anda mendengar berita terbaru dari perusahaan ini, mungkin Anda pun akan memberi asumsi yang sama tentang bangkrutnya BlackBerry Ltd. ini. Sebenarnya sejak tahun 2012 lalu banyak pengamat memprediksi bahwa perusahaan ini sebentar lagi akan mengakhiri masa kejayaannya. BlackBerry telah bertahan kurang lebih selama bertahun-tahun namun apakah mereka sanggup untuk terus-menerus ada di dalam kondisi seperti ini. Berita terbarunya adalah mengenai aset-aset BlackBerry yang akan dijual dan karena hal ini, apakah perusahaan BlackBerry bangkrut?
Menjual Aset
BlackBerry dikabarkan memiliki banyak aset di daerah Waterloo, Ontario, Kanada. Waterloo bukan merupakan pusat kota namun dibutuhkan banyak sekali dana untuk membangun sebuah kawasan seperti yang didirikan oleh perusahaan BlackBerry. Perusahaan ini dikabarkan memiliki sebanyak 20 gedung di Waterloo yang merupakan hasil dari kejayaannya selama 10 tahun terakhir. Menurunnya kinerja BlackBerry dalam meraih laba seperti dahulu membuatnya berpikir ulang untuk menjual atau memberdayakan gedung-gedung di kawasan real estate tersebut.
Pecat 4500 pekerja
Pada akhir bulan lalu perusahaan BlackBerry telah mengumumkan bahwa mereka akan merumahkan para pekerjanya sebanyak 4500 pekerja (total sebesar 40% dari keseluruhan pekerja). Imbas dari banyaknya pekerja yang dirumahkan ini membuat ruangan-ruangan pada kantor BlackBerry menjadi kosong. Pemangkasan jumlah tenaga kerja yang mencapai ribuan merupakan salah satu langkah yang diambil oleh pihak perusahaan dalam rangka mengurangi biaya operasional. Hal ini dikarenakan BlackBerry sedang mengalami penurunan dalam penjualan produknya pada beberapa tahun terakhir.

Disewakan
Pihak BlackBerry menyatakan dalam sebuah email bahwa mereka sedang dalam target untuk mengurangi pengeluaran sampai 50% sampai tiga kuartal berikutnya sehingga mereka mengoptimalkan ruang kerja mereka. Oleh karena itu, ruangan yang tidak terpakai akan disewakan pada mitra maupun masyarakat yang membutuhkan. Namun pihak BalckBerry akan tetap mempertahankan beberapa bangunan utamanya.
Saham dibeli
Ada hal lain yang membuat perusahaan ini memutar otak untuk terus bertahan di tengah persaingan yang semakin sengit. BlackBerry tengah dalam proses penjualan sahamnya kepada salah satu konsorsium. Konsorsium tersebut bernama Fairfax Financial Holdings Ltd. yang menawarkan pembelian saham BlackBerry sebesar US$9 per lembarnya.
Daerah ‘Technology Triangle’
Sebagai penghuni terbesar di Waterloo, BlackBerry dituntut untuk dapat memanfaatkan lahan kerjanya agar dijual atapun disewakan kepada masyarakat. Langkah ini diharapkan dapat membantu BlackBerry dalam proses produksi di masa yang akan datang. Banyaknya gedung tempat BlackBerry bekerja membuat daerah Waterloo mendapat julukan ‘segitiga teknologi’ (Technology Triangle).
Pada laporan tahunannya, BlackBerry menyebutkan bahwa mereka memiliki area yang dibuat seperti sebuah kampus yang terdiri dari 27 gedung dan keenam gedungnya telah disewakan. Kampus yang berada di pusat dipakai untuk keperluan yang berhubungan dengan mesin, manufaktur, dan penelitian serta pengembangan operasi. Lalu bagian utara kampus yang baru saja mendirikan empat gedung baru dipakai untuk keperluan korporasi, administrasi, dan operasi finansial.

Harga Aset
Berdasarkan pengungkapan perusahaan, nilai dari daerah Waterloo tersebut dihargai $119 juta. Menurut Neeraj Monga, seorang analis dari Veritas Investment Research mengatakan bahwa akan sangat sulit dalam memprediksi harga keseluruhan gedung yang dimiliki oleh BlackBerry tersebut. Sejak 1984 BlackBerry merupakan penghuni terbesar di daerah tersebut dan Monga menghimbau agar perusahaan segera mengisi ruang-ruang yang kosong dengan para penyewa yang baru.
Kesimpulan
Keputusan BlackBerry dalam menjual asetnya akan berimbas pada produksi selanjutnya mengingat hasil dari penjualan tersebut untuk kepentingan biaya produksi. Sepertinya BlackBerry harus terus berjuang agar tidak salah langkah dalam setiap pergerakannya demi mengembalikan masa kejayaannya atau minimal tidak menjadi bangkrut. Perusahaan pun harus menyesuaikan diri dengan harga saham yang turun sehingga mempersulit dalam mencari investor baru. Belum lagi opini para pengamat yang terkesan memojokkan perusahaan serta opini publik yang sepertinya sudah kehilangan selera akan produk-produk keluaran BlackBerry